Teknologi itu Tentang Berpusat pada Manusia

Kondisi pandemi covid-19 sejak awal tahun 2020 telah mendorong kita untuk melakukan perubahan yang lebih cepat lagi yang tidak mungkin dihindari. Hadirnya layanan berbasis data masuk ke banyak aspek kehidupan kita. Seperti layanan antar makanan secara daring, transaksi keuangan berbasis uang digital, penyelenggaraan pendidikan secara daring, menonton pertunjukan secara online, penggunaan teknologi untuk kesehatan dan lain-lain.

Tidak hanya secara individu, organisasi juga tidak dapat mengelak untuk segera bisa beradaptasi atas perubahan yang terjadi jika ingin bertahan dalam kondisi ini. Proses bisnis dan cara kerja harus bisa menyesuaikan.  Seperti penerapan WFH (work from home), pertemuan atau rapat dilakukan secara online, transaksi penjualan atau pembelian tidak lagi secara offline melainkan sudah harus secara online, panduan dan pelatihan juga harus dilakukan secara online serta memonitor system pun sebisa mungkin sudah mengurangi keterlibatan manusia dan sudah berjalan secara otomatis.

Akan tetapi pada umumnya krisis akan selalu memberikan hikmah dan kesempatan kepada kita untuk berpikir ulang atas potensi diri kita untuk bisa menghadapi perubahan saat ini dan kedepannya. Semua Kembali ke manusianya terlebih dahulu sebelum kita bicara ke teknologinya.
Seringkali saat kita bicara tentang digital transformasi, digitalisi atau hal yang berhubungan dengan hal yang digital, kita lebih banyak bicara tentang teknologi dibandingkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan manusia.

Kemampuan beradaptasi untuk mempertahankan dan meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi secara efektif akan membuat peningkatan kualitas sumber daya manusia dan teknologi secara bersamaan.

Pemanfaatan teknologi akan selalu berkaitan tentang produktivitas, bagaimana kita bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sisi kuantiitas maupun kualitas dibandingkan tanpa memanfaatkan teknologi. Tetapi ini akan menjadi efektif jika dikombinasikan dengan keterampilan yang dikuasai oleh sumber daya manusia yang tepat.

Inovasi yang cemerlang tidak akan berguna jika kita tidak terampil dalam penggunaannya dan pikiran manusia juga tidak akan efektif menghasilkan karya jika tidak bisa bekerja sama dengan teknologi.

Rasa keingintahuan intelektual yang tinggi, semangat yang tidak pernah padam dalam menghadapi hal-hal yang baru, seperti yang pernah dikatakan oleh mendiang Steve Jobs yaitu “Stay hungry”, “stay foolish” merupakan softskill yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia. Teknologi akan terus berubah dan berkembang akan tetapi dengan kemampuan belajar yang tinggi, mudah beradaptasi, fleksibel, ingin tahu yang tinggi akan membuat teknologi menjadi relevan di jamannya dan menjadi lebih berguna secara efektif.

Manusia akan menjadi penentu dalam keberhasilan di masa yang akan datang, apakah manusia sebagai pelengkap dari teknologi, ataukah dengan keterampilannya dan kepemimpinannya akan mampu mendorong keberhasilan dan kesuksesan dalam menghadapi krisis.

Semuanya harus dimulai dari diri kita masing-masing untuk bertanggungjawab dalam berkembang dengan terus menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi. Sehingga kita akan terus memiliki pilihan baik dalam kondisi krisis maupun diluar kondisi krisis.

Referensi:
Artikel Digital Transformation is About Talent, Not Technology oleh Becky Frankiewicz and Tomas Chamorro-Premuzic

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *